Pertama, elemen kecil dalam PKI—terutama Biro Khusus yang dipimpin oleh Sjam—memiliki peran langsung dalam aksi penculikan dan pembunuhan beberapa perwira, sesuai analisis yang menempatkan keterlibatan hanya pada lingkaran terbatas dalam partai, bukan seluruh organisasi.
Kedua, Angkatan Darat dan pemimpinnya, paling menonjol Jenderal Soeharto, adalah pihak yang paling diuntungkan dari peristiwa itu: mereka cepat mengambil kendali politik, memobilisasi propaganda, dan menumpas PKI sehingga mengamankan hegemoni militer.
Banyak sejarawan menyatakan bahwa kelincahan politik Angkatan Darat menunjukkan bukan sekadar reaksi spontan tapi penggunaan krisis untuk mencaplok kekuasaan.
Ketiga, posisi Presiden Sukarno ambivalen—ia mengandalkan keseimbangan antara nasionalis, agama, dan komunis (Nasakom) dan mungkin tidak sepenuhnya tahu atau mengendalikan skenario yang berlangsung; ada argumen bahwa ia kehilangan kendali alih-alih menjadi aktor pereksa operasi.